Kaum Milenial Siapkah Kita Memimpin Mereka?

Tidak bisa lepas dengan gadget selama bekerja, kebiasaan bercanda berlebihan dengan sesama pegawai, dan sikap ketika menghadapi atasan yang dinilai kurang sopan. Ini adalah beberapa keluhan seorang pemimpin kantor kementrian yang mengundang seorang coach untuk melatih seputar etos kerja di kantor tersebut. Disisi lain, mereka yang dikeluhkan ini, bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat daripada seniornya. Jika para senior menyelesaikan pekerjaan sore hari, mereka para pegawai muda ini mempu menyelesaikan pekerjaaanya rata-rata sebelum jam 12 siang. Dengan kualitas kerja yang jauh lebih baik dari seniornya. Kemampuan yang belum pernah ditemukan dalam sejarah dinas tersebut. Disisi lain, studi kasus kedua. Ada yang sadar 70% angkatan kerjannya adalah milenial, kemudian memfasilitasi dengan berbagai acara di luar kantor, menggabungkan rapat kerja dan hiburan, kostum bebas sesuai kesepakatan, ada waktu ekspresi diri melalui photo boot, diskusi ringan tema collouring world, dan ceremonial collouring face yang menghibur. Namun saat kembali ke ruang kerja, suasana tetap seperti semula. Desain yang dibuat tadi hilang seketika. Suasana seperti menghadapi atasan yang kaku, pemimpin dengan gaya topdown dan komando, hubungan antar karyawan yang formal. Seolah menegaskan ini saatnya bekerja, sedang tadi adalah saat bersenang-senang. Hasilnya? Ternyata masih sering menghadapi komplain dari konsumen, dan penurunan peringkat dari status cabang terbaik. Studi kasus ketiga. Sebuah perusahaan jasa IT, semua karyawannya kaum milenial dengan usia 20-30 tahun. Meskipun ownernya berusia 70 tahunan, dia menyerahkan bisnis sepenuhnya kepada seorang CEO berusia dibawah 50 tahun. Tempat kerjanya dibuat terbuka, tidak ada sekat antar-ruangan. Setiap orang bisa berkoordinasi langsung dengan tim lainnya. Pada masing-masing spot ruang kerja dibuat senyaman mungkin. Bahkan mereka bisa berpindah-pindah, kadang lesehan, kadang juga di meja kerja, kadang di pantry, kadang kerja di luar kantor. Sebagian bekerja secara remote tidak harus bekerja di kantor, tetapi tetap disiplin menyetorkan hasil kerja dengan platform it yang disediakan perusahaan. Dahsyatnya, usia bisnis belum 5 tahun, bisnisnya bisa bertumbuh begitu cepat dan berjalan sangat efektif. Bisa mendapatkan ribuan project IT dalam waktu beberapa tahun saja, dan sangat adaftif dengan perubahan. Timnya bergerak sangat cepat, sepertinya juga timnnya terlihat bahagia. Hampir tiap bulan tim kerjanya merayakan capaiannya dengan berlibur, berkeliling tempat-tempat wisata. Persamaan tiga kasus tersebut adalah pekerjanya kaum milenial. Karyawan milenial dengan perilaku yang sama, potensi yang sama, dan mestinya memberi dampak kerja yang sama. Bedanya dalah kepemimpinan. Karakteristik kepemimpinan membawa budaya kerja yang berbeda, dan tentu saja berdampak pada hasil kerja yang berbeda. Itulah kutipan pengantar dari Ryan Martian dalam bukunya “The 5.0 Leader. Gaya Servant Leader, yang menjadi karakteristik dari contoh kasus pertama dan ketiga lebih cocok dengan kaum milenial saat ini. Perkiraan bahwa pada 2025 nanti 75% angakatan kerja adalah milenial, perlu disikapi dengan menemukan pola kepemimpinan yang pas. Generasi yang identik dengan Internet of Thing (IOT) ini, akan mendominasi angkatan kerja. Membutuhkan lingkungan kerja yang mirip dengan tren dimana mereka tumbuh. Beberapa karakteristik milenial dalam The 5.0 Leader tulisan Ryan Martian tersebut antara lain; 1.Pekerja milenial bekerja bukan untuk menerima gaji, tetapi juga utuk mengejar tujuan (sesuatu yang sudah dicita-citakan sebelumnya) 2.Milenial tidak terlalu mengejar kepuasan kerja, tetapi yang lebih diinginkan adalah kemungkinan berkembangnya diri mereka di dalam pekerjaan (Mempelajari skill baru, sudut pandang baru, mengenal lebih banyak orang, mengambil kesempatan berkembang, dan sebagainya) 3.Milenial tidak mengiginkan atasan yang suka memerintah dan mengontrol 4.Milenial tidak menginginkan review tahunan, milenial menginginkan on going conversatiton. 5.Milenial tidak berpikir memperbaiki kekuranganya, milenial lebih berpikir mengembangkan kelebihannya. 6.Bagi milenial pekerjaan bukan hanya sekedar bekerja tapi bekerja adalah bagian dari hidup mereka. 7.Uang akan menarik mereka bekerja, tapi uang tidak akan membuat mereka setia. Cenderung berpindah-pindah tempat kerja. 8.Lebih peduli pada keaneka ragaman, inklusi, fleksibilitas bukan sekedar uang. Referensi: The 5.0 Leader, Ryan Martian.

Komentar