MELURUSKAN DEFINISI ORANG SALEH
Oleh: Aunur Rafiq Saleh
يُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَا رِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
"Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh." (QS. Ali 'Imran: 114)
Ayat ini mendefinisikan siapa itu orang saleh. Definisi orang saleh menurut ayat ini ternyata berbeda dengan definisi yang biasa difahami banyak orang selama ini. Mereka menggambarkan orang saleh sebagai pribadi yang taat beragama secara pasif, hanya menjalankan ajaran-ajaran agama yang terkait ibadah individual atau mahdhah seperti shalat, puasa, dzikir dan tilawah al-Quran, tanpa peduli dengan kehidupan sosial dan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya apalagi di lingkungan global.
Ayat ini menggambarkan ciri-ciri hati orang saleh:
1- Hatinya hidup karena telah menemukan jalannya kepada Allah, di mana iman telah tertanam dalam diri mereka—iman yang membangkitkan hati sebelum lidah berbicara. Yaitu iman kepada Allah dan Hari Kiamat yang membuat pemiliknya selalu mengingat akhirat dalam setiap langkah hidup mereka.
2- Iman ini tidak berhenti hanya pada kepercayaan semata, tetapi berubah menjadi efek yang nyata, mendorong pemiliknya untuk memerintahkan kebaikan karena rahmat dan perbaikan, dan melarang kejahatan karena nasihat yang tulus dan cemburu terhadap kebenaran.
Hatinya tidak bisa tenang sebelum berkontribusi dalam upaya perbaikan kondisi masyarakat dengan melibatkan dirinya ke dalam aktivitas dakwah dan pembinaan menyiapkan kader-kader dakwah yang akan melanjutkan proses perbaikan (ishlah) di tengah kehidupan umat manusia.
3- Mereka tidak tahan melihat kebaikan diabaikan atau kejahatan dibiarkan tanpa dijelaskan dan dilakukan upaya untuk menghentikan. Lalu bergerak aktif menggalang kekuatan dan mengonsolidasikan berbagai potensi kebaikan yang ada di tubuh umat, karena sejatinya umat Islam punya potensi sangat besar tetapi belum terkonsolidasikan dengan baik dan semestinya.
5- Kemudian jiwa-jiwa ini menaiki tangga kedekatan dengan Allah, tidak puas hanya dengan ritual-ritual khusus dan terbatas efek kebaikannya, tetapi bersegera melakukan amal-amal kebaikan yang berefek perbaikan (ishlahiyah) karena kerinduan akan ridha Allah. Mereka bergegas untuk taat sebelum terlambat, memanfaatkan berbagai kesempatan seperti memanfaatkan barang-barang berharga. Karena ketika hati dipenuhi dengan keyakinan, ia memahami bahwa perbuatan baik tidak dapat ditunda.
Ia tidak hanya bersegera melakukan amal-amal kebaikan berupa ibadah-ibadah mahdhah atau ritual khusus yang mendekatkan dirinya kepada Allah saja, tetapi juga memanfaatkan setiap peluang amar ma'ruf dan nahi munkar yang ada di hadapannya.
Semua forum, moment dan kesempatan baginya adalah forum, moment dan kesempatan dakwah. Tidak dilewatkan begitu saja tetapi segera, sekali lagi segera, dijadikakan forum ishlah. Bahkan profesi, jabatan, kedudukan dan pengaruhnya pun digunakannya untuk melakukan berbagai kebaikan dakwah.
Ia bersegera dan bergegas memanfaatkan peluang dakwah itu karena menyadari tidak setiap kesempatan bisa terulang. Sebelum datang berbagai hambatan yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga.
Itulah gambaran orang saleh versi ayat ini. Semoga gambaran ini bisa mengubah gambaran orang saleh tentang orang saleh yang secara keliru difahami sebagian orang.

Komentar
Posting Komentar