Dengan ekspresi serius, dan tatapan fokus pada layar laptop, mbak Nova setengah bergumam berkata kepada pemateri pelatihan “oh harus di input satu persatu ya pak Mahfudz?’’ Tanya mbak Nova, bendahara salah satu unit lembaga pendidikan di lingkungan Yayasan Ibnu Katsir.
Saya lebih menangkap makna pertanyaan itu sebagai, ekspresi beratnya proses memulai aplikasi sistim informasi manajemen terpadu yang hendak digunakan yayasan.
Berat ketika melihat banyaknya data yang tersaji dan harus di masukan satu persatu.
Butuh waktu, kesabaran dan ketelatenan.
E-Pesantren nama aplikasi tersebut. Aplikasi SIM (Systim Informasi Management) terpadu berbasis cloud yang digandeng Yayasan Ibnu Katsir. Dalam aplikasi tersebut disediakan dashboard yang memudahkan pemantauan, pengawasan dan kemudahan akses informasi dan berbagai laporan.
Sudah sekitar tiga bulan sejak November 2019 yayasan ibnu katsir merancang upaya untuk lebih baik dalam pelayanan kepada semua stakeholdernya. Keinginan untuk memberi kemudahan, keterbukaan dan pertanggungjawaban dirancang secara online.
Rapat-rapat koordinasi, sosialisasi dilakukan secara marathon dan simultan dari semua bidang kerja dan antar departemen.
Termasuk pada hari Selasa kemaren, 5 Januari 2021. Tim E-Pesantren mengadakan sesi pelatihan untuk menggunakan aplikasi tersebut. Memang diawal proses migrasi ke online, ini adalah tahapan terberat. Sebagaimana sebuah ungkapan “Berakit rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.” Setelah ini, lembaga bisa menikmati kemudahan-kemudahan dari penggunaan aplikasi ini. In syaa Allah.
Semua ini adalah upaya Pesantren untuk lebih baik lagi dalam memenuhi asas asas tata laksana yang baik dalam manajemen pesantren. Juga bagian menyesuaikan dengan perkembangan jaman di era milenial ini. Semua serba Online. Apalagi di saat pandemi seperti ini. Aktifitas Transaksi online meningkat.
Pesantren sudah mirip dengan tata kelola lembaga lembaga profesional baik profit dan non profit. Ini adalah tantangan di awal 2021 ini. So, pesantren makin digital, mengapa tidak?

Komentar
Posting Komentar