Mutu Pesantren dan Permintaan Pasar?

Salah satu yang menetukan standar mutu adalah pengguna jasa produk. Atau bahasa lainnya adalah pasar. Setelah mitra dan pemangku kepentingan lainnya, pasar cukup berpengaruh dalam standar mutu produk. Lalu, bagaimana menyikapi komersialisasi pendidikan di kalangan pesantren? Secara tegas salah seorang ustad populer, mengatakan pendidikan harus jauh dari pasarisasi. Pendidikan harus tetap komitmen dengan idealisme dan kebenaran. Tidak boleh karena tutuntutan pasar mengorbankan nilai-nilai kebenaran yang diyakini, untuk bisa memenuhi permintaan pasar. Pernyataan ini benar, dan saya setuju. Saya hanya ingin menambhakan fakta-fakta lain. Apa itu? Mohon berkenan menyimak sampai tuntas. Mungkin bisa menjadi bahan diskusi meanrik hehe. Pertama,faktor ketidak samaan potensi peserta didik atau santri adalah masalah mendasar. Tidak semuanya bisa mengikuti kurikulum dipesantren secara baik. Kalau mau terus erang, kurikulum yang didesain pesantren akan mengantarkan seseorang menjadi ulama. Tentu saat ini tercapai, tidak ada masalah sampingan dari alumni. Karena telah sesuai arah kurikulum dan berhasil mencetak ulama. Dan akan segera terserap dengan baik ditengah umat. Namun bagi yang tidak bisa mengikuti secara utuh kurikulum pesantren, maka ketika lulus atau menjadi alumni perlu ada hal lain yang membuatnya tetap eksis di tengah masyarakat. Kedua, bahwa opini kebaikan dan kebenaran hanya bisa dominan ketika yang ada di area publik adalah pendukung kebenaran. Dalam hal ini alumni pesantren diharapkan tetap bisa masuk ke area area publik itu. Tentu setelah menyesuaikan dengan kebutuhan yang diminta. Inilah sisi yang bisa digarap pesantren, ketika menentukan standar mutu pesantren. Bagaimana pesantren membaca arah perkembangan jaman. Meneliti apa yang dibutuhkan jaman. Menyesuaikan dengan relaita jaman. Di era industri 5.0 ini, sepertinya mengarah pada penguasaan iptek, ketangguhan ekonomi, dan pribadi yang memiliki etik dan etos unggul yang bisa memimpin. Sehingga, selain kafa’ah syari’I, konten iptek dan keunggulan ekonomi perlu menjadi bagian integral dalam kurikulum pesantren. Dan tentu saja, karakter pribadi yang unggul hasil desain kurikulum pesantren. Dan bilapun tidak menjadi ulama, alumni pesantren tetap bisa mewarnai area publik dengan kompetensi tambahan tersebut. Disinilah saya setuju, bahwa pesantren juga perlu memperhatikan pasar. Dalam kontek inilah kita masuk dalam persaingan pasar. Bukankah kebaikan dan kebenaran perlu juga dipoles dengan baik? Agar bisa diterima secara umum. Dan harapannya adalah opini kebenaranlah yang mendominasi publik. Ini sangat mungkin terwujud, Ketika alumni pesantren bisa masuk dan mewarnai area area publik. Tentu dengan syarat, menyesuaikan dengan harapan para pengguna jasa dan pasar industri, 5.0 ini. Wallahu ‘alam bi showab.

Komentar