Rihlah dengan Membaca, Kontribusi Kebaikan dengan Menulis

Sejak kecil, aku suka sekali membaca. Entah yang pasti mulai usia berapa. Seingatku mulai kelas tiga SD, senang sekali dengan buku pelajaran PMP. Karena ada gambar-gambar yang menurutku saat itu, indah sekali. Banyak kesan dan imajanisasi indah saat melihat gambar-gambar itu. Tentu akhirnya, karena penasaran, akupun membaca tulisan disekitar gambar buku-buku itu. Saat perjalananpun, hampir semua tulisan terpampang dipinggir jalan kubaca, satu persatu. Kebetulan mobil bapak saya saat itu hijet 55, jalannya tidak laju sekali. Jadi banyak waktu untuk mengeja dan membaca tulisan-tulisan itu. Sempat juga pengen ndak baca, tapi kayak otomatis gitu. Tetap terbaca. Hehe. Sejak kecil juga, tiap pulang kerja bapak selalu bawa koran. Dan halaman favoritku adalah halaman olahraga. Kebetulan aku suka banget dengan sepak bola. Berita seputar sepakbola langsung jadi target pertama untuk di lahap habis. Terutama berita tentang persebaya Surabaya, karena saat kecil keluargaku tinggal di Surabaya. Tepatnya di belakang gelora 10 November. Homebase Persebaya Surabaya. Klub kesayangan bapak dan akhirnya aku juga sayang sama persebaya kala itu. Begitupun saat keluargaku pindah tempat tinggal ke daerah Sidoarjo. Di desa Bangah kecamatan Gedangan itu, di jalan utamanya ada persewaan komik. Tempat itu jadi favoritku untuk dikunjungi. Kisah silat bersambung, komik dengan seting jaman kerajaan-kerajaan dulu, hampir rata kusewa dan kubaca. Sampai pernah komik yang kusewa dipinjam teman, dan hilang. Ndak tanggung-tanggung, yang hilang sebendel lengkap. Jadinya aku harus tanggung jawab ke pemiliknya. Nyicil untuk mengganti komik yang hilang. Ini sempat bikin macet, hobby baca komikku. Karena tidak berani pinjam lagi, sampai komik yang hilang akhirnya bisa kulunasi. Tentu dengan uang hasil ‘merengek’ ke ortu sih. Haha… Saat remaja, kebiasan baca koran dan komik itu terus berlanjut. Dan berkembang ke level novel. Seperti ketagihan. Terus dan terus. Sudah seperti habit. Kalau tidak membaca koran dan komik saat itu, seperti ada yang kurang. Dan lebih dari itu, saat membaca, rasanya seperti sedang perjalanan wisata ke dunia lain, Asyik sekali. Saat SMA, tepatnya kelas dua, aku ditunjuk sekolah mengurusi majalah siswa di SMAN 3 Sidoarjo. Aku ingat tahun 1994 saat itu. Sempat juga membuat tulisan dan dimuat di majalah siswa itu. Itulah pertama kali menulis untuk sebuah media resmi dan dimuat, hehe. Pengalaman yang menyenangkan. Lebih-lebih seorang sahabat karib saat SMP memberi komentar positif tentang tulisanku. Ini seperti memberi kesan ‘aha’ di otakku. Ternyata menulis ada manfaatnya bagi orang lain ya? Kataku dalam hati saat itu. Ini menjadi semangat baru dalam diri. Sampai-sampai, sempat bercita-cita jadi wartawan segala. Karena pikirku, menulis identik dengan profesi wartawan. Apalagi aku suka baca koran. Klop dah. Dan beruntungnya, saat kuliah di ITN Malang, ada UKM yang namanya Majalah Kampus. Akupun daftar ke sekretariatnya. Dan alhamdulillah diterima. Pengalaman pertama ditugaskan menjadi wartawan kampus. Cita-cita jadi wartawanpun tercapai, alhamdulillah. Semangat berkontribusi kebaikanlah yang menguatkanku untuk terus belajar menulis. Namun belum pernah berjumpa dengan kursus menulis atau sejenisnya. Sampai di tahun 2020 ini ada pandemi corona. Saat aktifitas offline dibatasi, ternyata ada hikmah. Di FB dan Medsos lainnya, banyak sekali tawaran e-course dan webinar. Dan termasuk yang saya cari selama ini. Kursus menulis. Waktu luang ada, kesempatan tiba, cocok deh. Banyak ide dikepala, sebagian tersalurkan melalui forum-forum terbatas di lingkunganku beraktifitas. Sebagian banyak mengendap, belum tersalurkan. Pikirku, satu-satunya jalan aku harus bisa menulis buku. Ingin sekali menyalurkan ide-ide yang ada, dan menjadi kontribusi kebaikan lebih luas bagi manusia lainnya. Ingin sekali pula mempunyai jariyah. Dan sepengamatanku, jariyah yang cukup efektif dan produktif adalah buku. Membaca buku-buku warisan ulama-ulama terdahulu, cendekiawan, peneliti dan orang-orang hebat dimasa lalu, bikin iri. Karena aku yakin mereka sedang menikmati hasil karyanya di alam kubur. Sebelumnya sih, tidak punya jadwal khusus untuk membaca dan menulis. Setelah ikut 60HMB inilah jadi lebih tertib. Tiap malam menyempatkan membaca, dan setelah subuh mulai menulis. Biasanya baru bisa menulis kalau sudah nemu ide yang kuat. Pesan kuat yang ingin disampaikan. Kalau sudah ketemu, menulsi seperti mengalir saja. Demikian sekelumit kisah tentang aktifitas membaca dan menulisku. Semoga bersama orang-orang hebat di 60HMB, serta tim mentor yang luarbiasa, Allah berikan keberkahan ilmu dan amal. Kepada Allah saya memohon Taufik dan Hidayah. Jember, 9 Januari 2021.

Komentar