🍁🍁🍁🍁🍁
📚📓📕📙📒📔📗📘
*Tarbiyah Mustamirah*
✒️ KH. Hilmi Aminuddin Rahimahullah
Untuk menghasilkan pertumbuhan, semua elemen harakah mestilah menyelenggarakan tarbiyah yang mustamirah (berkesinambungan). Program tarbiyah ini hendaknya dipegang teguh oleh setiap ikhwah dan menjadi pusat perhatian mereka yang utama.
Tarbiyah merupakan akar yang akan melahirkan bidang-bidang lain dalam harakah. Bila tarbiyah dalam jama’ah lesu, gerakan jama’ah pun akan berkurang. Bila ia keliru, gerakan dakwah pun akan menyimpang.
Tarbiyah dalam harakah ada dua sisi. Pertama, talqiniyah. Yaitu pembahasan suatu masalah Islam dalam bentuk Unit Pembinaan Anggota (UPA).
Ini intinya terdapat pada firman Allah,
كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al- Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79)
Ajaran Islam tidak mungkin difahami kecuali dengan pembinaan yang pada hakekatnya merupakan upaya memahami serta menghayati Kitabullah.
Kedua, tajribiyah. Yaitu dengan menerima pengalaman lapangan langsung yang merupakan suatu pelajaran dari medan dakwah, Allah berfirman,
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ
“Dan bertakwalah kepada Allah; dan Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 282)
Ada pun yang menjadi inti dalam tarbiyah jama’ah ini adalah tercapainya keselamatan potensi harakah (salamatut thaqatil harakah).
Karena itu tarbiyah hendaknya meliputi tiga unsur berikut,
1. Shalabatul qa’idah (kekokohan basis) ditentukan oleh shalabatul aqidah (kekokohan aqidah). Karenanya tarbiyah aqidiyah tidak boleh lepas atau berhenti. Itulah yang membuat hubungan kita dengan Allah dan menjadi inti kekuatan jama’ah.
2. Nuqthatul inthilaq (titik tolak) ditentukan oleh kejelasan fikrah. Tarbiyah juga harus meliputi pemahaman terhadap maksud-maksud ajaran Islam sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Kaifiyatul masiir (metode berjalan) ditentukan oleh kejelasan minhaj yang kita tempuh dengan mengikuti perjalanan dakwah dan perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam iqomatud diinillah.
Ri'ayah Tarbawiyah amat sangat penting sebagai basis dari sebuah program. Sebuah recovery tarbiyah. Ini sangat penting walaupun kita juga harus tawazun, dalam arti sering saya ingatkan bahwa kita ini harokah Islamiyyah bukan harokah tarbawiyah. Walaupun kita faham bahwa tarbiyah itu bukan segala sesuatu dalam jama'ah ini karena ia hanya _juz'iyyatu 'alal amal islami_ (salah satu bagian amal Islami) , tapi dia sangat menentukan segala sesuatu.
Makanya jangan lalai dalam tarbiyah ini. Saya pun bertanggung jawab jangan sampai terjadi _tawarut siyasi_ setelah Pemilu / pilkada - larut dalam dunia politik. Maka segera saja dicanangkan _Ri'ayyah Da'wiyyah_, yang program utamanya adalah _Ri'ayyah Tarbawiyyah_. Dengan pemahaman bahwa hasil tarbiyah ini jangan dibatasi manfaatnya menjadi tarbiyah untuk tarbiyah.
Artinya moralitas, idealisme dan semangat yang dihasilkan oleh tarbiyah itu jangan hanya dirasakan ketika ia menjadi murrobbi saja. Tapi harus dirasakan juga produk tarbiyah itu baik secara moralitas, 'idealisme, akhlak, hayawiyah, semangat ke dalam dunia politik. Aktif dalam sektor bisnis, aktif dalam eksekutif, aktif dalam budaya, aktif dalam sosial, aktif dalam peradaban, perasaan bahwa mereka juga harus merasakan tarbiyah.
Jangan sampai produk produk tarbawi hanya semangat ketika men-tarbiyah saja. Ketika berada di dunia politik dia sedang lesu, di dunia ekonomi memble, dunia sosial kemasyarakatan ketinggalan, dalam seni budaya jauh di urutan ke berapa.
Tarbiyah harus bisa memacu, memberikan semangat, memberikan moralitas tinggi, idealisme tinggi dalam segala bidang. Dan itu sebetulnya sudah kita rasakan. Dan semakin kita butuhkan ketika kita semakin mernbesar. Jangan sampai potensi di bidang apa pun (ada -red.) yang tidak mendapat sentuhan tarbawi tersebut. Itu diharapkan supaya jangan terjadi yang dinamakan al-izaaban, pelarutan (zawaaban).
Jangan sampai ketika aktif di bidang politik terjadi _izaabatu syakhshiyatul Islamiyah_ (pelarutan kepribadian Islam), atau aktif di bidang ekonomi terjadi _izaabatul akhlaqul Islamiyah_
Pelarutan-pelarutan itu insya Allah tidak akan terjadi atau diminimalisir oleh kita jika tarbiyah kita konsisten.
Maka tugas kita sebagai gerakan dakwah, partai dakwah, selain secara terus menerus membina kader–sebagai modal utama dan pertama gerakan dakwah kita–adalah juga terjun di tengah-tengah masyarakat melakukan tarbiyatul ummah. Membangun wa’yul islami, agar produk reformasi politik dalam bentuk kedaulatan rakyat, dalam bentuk aspirasi-aspirasi rakyat, yang muncul adalah aspirasi yang islami. Kalau tidak, yang akan muncul adalah aspirasi-aspirasi kiri, aspirasi kanan, atau aspirasi kirinya kanan, kanannya kiri atau kanan dalam, kiri dalam, dan seterusnya. Sementara gerakan dakwah akan kembali marginal.
Jadi saya ingin mengingatkan kita sebagai kader-kader dakwah, fokus kerja dakwah kita adalah melakukan tarbiyah kader dan melakukan tarbiyatul ummah atau tarbiyah jamahiriyah. Sebab kebebasan yang dimiliki rakyat, kalau tidak kita tarbiyah akan terjadi lepas kendali. Bahkan akan menerkam kita sendiri, padahal kita yang memperjuangkan kebebasan mereka.
=====================
Catatan : sedikit revisi redaksional , tanpa merubah makna

Komentar
Posting Komentar