APAKAH LIQO "MENYIKSA" GEN Z KITA?
@ Detti Febrina
"Ternyata di sini liqonya boleh ketawa-ketawa ya, Ustadz." Begitu cetus seorang gen z pada ustadz murabbi-nya yang baru.
"Loh memang selama ini gimana? Ga boleh ketawa?"
Lalu mengalir cerita betapa sejak mondok di SMP lalu SMA, dia tertekan dengan pembinaan pekanan di sana. Serieus pake pisan. Eh begitu kuliah ketemu kakak pembina yang ga kalah serius.
"Apa lagi kalo sudah ditanya mutabaah, Tadz .."
***
Ustadz murabbi yang dimaksud menelepon saya, berbagi cerita, berbagi resah soal model pembinaan para gen z tersayang ini.
Beliau titip saya menulis soal ini (wicis saya bilang beliau sendiri harus mulai menulis juga, karena banyak true story insipiratif yang perlu dibagi) sebagai bahan refleksi. Refleksi yang bukan di kaki.
"Padahal mereka itu kan sudah liqo sejak masih dalam perut ibunya. Tugas kita (maksudnya para murabbi gen z ini) sekarang cuma nemenin, mengarahkan supaya potensi baiknya meledak."
Bukan menggurui.
Mungkin kasuistik. Semoga demikian. Tapi menariknya indikator yang beliau ceritakan juga saya temui pada ikhwan-akhwat pimpinan organisasi mahasiswa dua bulan lalu di sebuah sharing session.
Tegang pisan.
Ini mungkin amatan sektoral yang ga bisa jadi sampel keseluruhan, tapi untuk jadi asumsi awal ga ada salahnya untuk dievaluasi. Benarkah salah satu asbab melipirnya gen z yang lahir dari rahim para pejuang dakwah ini karena justru merasa tertekan dengan: liqo, tarbiyah, (apa pun namanya) ini?
Alih-alih bahagia, liqo bisa terasa menyiksa.
"Zamannya sudah berubah. Ga bisa murabbi-murabbi memperlakukan mereka sebagaimana dulu ia sendiri liqo," lanjut sang ustadz yang pegang 5 kelompok gen z ini.
Tentu saja.
Ada yang dari kafe ke kafe, ada yang bayarin gojek gimana caranya mutarabbi datang liqo, ada yang memenuhi FOMO cobain ayunan Masjid Al Bakri, bikin project bersama nabung Go To Malaysia, harus tahu bedanya Naruto-Park Ji Hoon-Piccolo, dan 1001 inovasi lainnya.
Sudah jungkir balik sampe balik jungkir lagi inovasi para murabbi ini pun, panjang kali lebar curhatan para murabbi gen z di grup pembimbing.
Saya tertawa. Selamat datang ya bapak-ibu. Selamat menikmati asiknya jadi murabbi gen z 😎.
Dan 1001 inovasi itu asasnya karena peduli. Karena barisan ini butuh penerus. Dan umi-abi serta para murabbi-nya perlu sadar bahwa para penerus hidup di era layar selalu di genggaman, obrolannya soal mental health dan healing dari kelakuan toksik.
Jadi peer terbesarnya adalah transformasi manset para murabbi. Peer besarnya gimana agar kita bisa terkoneksi. Koneksi sebelum koreksi.
Agar liqo jadi sesuatu yang dicinta alih-alih menyiksa.
Tiada lain, nasihat dan renungan untuk saya sendiri.
Afwun minkum.
Bandar Lampung, 20 September 2025

Komentar
Posting Komentar