📒📒📒🕋📒📒📒
Dakwah: Identitas Utama Seorang Muslim
Oleh: Prof. Dr. Tulus Musthofa, MA.
Dakwah sering dipersempit maknanya. Ia dianggap sebagai tugas para ustaz, kiai, mubalig, atau mereka yang berdiri di mimbar. Akibatnya, mayoritas umat merasa tidak memiliki tanggung jawab dakwah.
Mereka berkata, “Saya bukan pendakwah.” Padahal, Al-Qur’an dengan tegas membantah anggapan ini. Allah berfirman:
> قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad): “Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan penuh kesadaran dan ilmu, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya” (QS. Yusuf: 108)
Ayat ini mengandung pernyataan identitas yang sangat kuat: setiap pengikut Nabi Muhammad ﷺ adalah bagian dari dakwah.
Dakwah: Bukan Pilihan, Tetapi Identitas
Perhatikan ungkapan:
>أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
"Aku dan siapa saja yang mengikutiku" .
Ini bukan sekadar ajakan, tetapi penegasan: dakwah adalah konsekuensi iman. Siapa pun yang mengaku mengikuti Rasulullah ﷺ, maka ia juga memikul misi dakwah.
Dengan demikian, dakwah bukanlah aktivitas opsional, melainkan bagian dari jati diri seorang muslim. Ia bukan tambahan, bukan peran sampingan, dan bukan hanya tugas orang tertentu.
Seorang mukmin yang sejati adalah seorang da’i, meskipun ia tidak pernah berdiri di mimbar.
Dakwah sebagai Jalan Hidup
Allah tidak berfirman: “Ini tugasku”, tetapi:
> قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي
Katakanlah: Inilah jalanku.
Kata sabil berarti jalan hidup, orientasi, arah eksistensi. Dakwah bukan sekadar aktivitas, melainkan cara hidup.
Dari sini lahirlah satu kesadaran mendasar: jati diri utama seorang muslim adalah Da’i. Sebelum ia menjadi:
- dokter
- dosen
- guru
- pengusaha
- politisi
- birokrat
- akademisi
- dan berbagai profesi lainnya
ia terlebih dahulu adalah pendakwah kepada Allah.
Identitas-identitas sosial itu penting, tetapi semuanya hanyalah wadah dakwah, bukan pengganti dakwah. Seorang muslim bukanlah dokter yang kebetulan muslim, atau dosen yang kebetulan muslim. Ia adalah da’i yang berdakwah melalui profesinya, akhlaknya, dan integritasnya.
Dakwah Harus Berbasis Bashirah
Allah menegaskan bahwa dakwah Nabi bukan sekadar ajakan, tetapi ajakan:
> عَلَىٰ بَصِيرَةٍ
Dengan kesadaran, kejernihan, dan ilmu. Bashirah mencakup:
- pengetahuan
- kebijaksanaan
- kematangan berpikir
- kejernihan niat
- ketepatan metode
Ini menjadi kritik keras terhadap dakwah yang emosional, reaktif, penuh amarah, dan minim ilmu.
Dakwah tanpa bashirah bisa melahirkan:
- kekerasan verbal
- fanatisme sempit
- kebencian
- perpecahan
Padahal, dakwah sejati adalah dakwah yang mencerahkan, bukan mengeraskan.
Dakwah: Tanggung Jawab Individu
Sering kita mendengar:
- “Sudah ada ustaz.”
- “Sudah ada ormas.”
- “Sudah ada lembaga dakwah.”
Namun ayat ini menolak semua alasan itu.
> أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
Setiap individu memiliki bagian dakwahnya sendiri. Tidak semua harus berceramah. Tetapi setiap orang bisa berdakwah melalui:
- kejujuran
- amanah
- keadilan
- kesantunan
- profesionalisme
- kepedulian sosial
Inilah dakwah yang paling kuat: dakwah dengan keteladanan.
Tujuan Dakwah: Mengajak kepada Allah, Bukan kepada Diri
Allah berfirman:
> أَدْعُو إِلَى اللَّهِ
Dakwah sejati bukan mengajak kepada:
- diri sendiri
- kelompok
- ideologi
- popularitas
Tetapi mengajak kepada Allah. Jika dakwah melahirkan fanatisme tokoh, kultus kelompok, dan kebencian terhadap sesama muslim, maka ia telah menyimpang dari hakikatnya.
Kemurnian Tauhid dalam Dakwah
Ayat ini ditutup dengan:
> وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ
الْمُشْرِكِينَ
Ini adalah deklarasi keikhlasan.
Dakwah bukan:
- ajang mencari nama
- alat meraih kekuasaan
- komoditas popularitas
Dakwah adalah ibadah.
Penutup: Sudahkah Aku Menjadi Da’i?
Mari kita bertanya pada diri sendiri:
- Apakah hidupku mengajak orang kepada Allah?
- Apakah akhlakku memudahkan orang mencintai Islam?
- Apakah profesiku menjadi ladang pahala?
- Apakah kehadiranku menenangkan?
Jika dakwah adalah kewajibanku dan kewajibanmu, maka kita semua adalah da’i, baik kita mau atau tidak.
Yang menjadi pertanyaan bukan lagi: “Apakah aku pendakwah?” --tetapi: “Dakwah seperti apa yang aku lakukan setiap hari?”
Wallahu A'lam

Komentar
Posting Komentar