NIKMATNYA PERJALANAN DAKWAH

 


☪️

NIKMATNYA PERJALANAN DAKWAH


DAKWAH bukan tentang siapa yang paling fasih berbicara, bukan pula tentang siapa yang paling banyak pengikutnya.


Dakwah adalah perjalanan panjang, melelahkan, tapi penuh nikmat yang sering tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Di jalan dakwah, kita belajar satu hal penting, ikhlas itu mahal. Tak semua orang paham niat kita. Tak semua orang suka dengan cara kita. Kadang dicurigai, kadang diremehkan, bahkan kadang ditinggalkan.


Namun justru di situlah Allah sedang membersihkan hati kita agar berdakwah bukan demi pujian, tapi demi ridha-Nya.


Nikmatnya dakwah terasa saat kita lelah, tapi hati tetap hidup.


Saat langkah terasa berat, tapi dada terasa lapang.


Saat hasil tak sesuai harapan, namun kita yakin Allah mencatat setiap usaha, bukan sekadar hasil.


Dalam dakwah, kita sering memberi nasihat, waktu, tenaga, tapi sejatinya kitalah yang paling banyak menerima.


Menerima pelajaran sabar.

Menerima latihan tawakal.

Menerima kesempatan memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain.


Perjalanan dakwah juga mengajarkan kita arti kebersamaan.


Ada saudara yang Allah pertemukan di jalan ini.

Bukan karena darah, tapi karena iman.


Ikatan yang lahir dari lelah yang sama, doa yang sama, dan tujuan yang sama: mengantar manusia lebih dekat kepada Allah.


Dan ketika suatu hari kita merasa kecil, merasa tak berarti, ingatlah: tugas kita hanya menyampaikan,

memberi teladan,

dan terus melangkah.


Hidayah bukan milik kita,

hasil bukan tanggung jawab kita. Yang Allah minta hanyalah kesungguhan dan kesetiaan di perjalanan.


Itulah nikmatnya perjalanan dakwah. Bukan karena jalannya mudah, tapi karena Allah membersamai setiap langkahnya.


"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (Qs. Fushilat: 33)


Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa ia membaca firman-Nya:


"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat: 33)


Lalu Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa orang yang dimaksud adalah kekasih Allah, dia penolong (agama) Allah, dia orang pilihan Allah, dia orang yang diutamakan oleh Allah, dia adalah orang yang paling disukai Allah di antara penduduk bumi. Dia memenuhi seruan Allah dan menyeru manusia untuk memenuhi seruan Allah seperti yang dilakukan olehnya, dan ia beramal saleh sebagai pengamalan seman Allah, lalu ia berkata, "Aku termasuk orang-orang yang berserah diri," dan ini menjadikannya sebagai khalifah Allah. Wallahu a'lam bishowab[]Sat


☪️

Madrasatuna

Komentar